Kamis, 20 Juni 2013

Tazkiyatun Nafs

                                       8 PENYAKIT JIWA

Rasulullah memberikan jalan keluar kepada seorang pemuda berupa do’a, yang sekaligus merupakan petunjuk kepada manusia tentang penyakit jiwa yang seharusnya dihindari. Do’a yang dimaksud adalah :
“Allahumma innii a’uudzu bika minal hammi wal hazn, wa a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhl, wa a’uudzu bika min ghalabatid dini wa qahrir rijaal.”

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat peragu dan duka nestapa, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan penakut, dan aku berlindung kepada-Mu dari timpaan hutang dan intimidasi.”

Do’a ini senantiasa dibaca Nabi pada saat beliau usai menjalankan sholat, menjelang tidur atau setelah bangun tidur.

Do’a tadi sekaligus memberi petunjuk kepada manusia tentang delapan penyakit jiwa yang harus dihindari. Kedelapan penyakit itu adalah:

1.    HAMMI (ragu-ragu menghadapi masa depan)
Sesungguhnya tiap manusia telah dikarunai akal, keterampilan dan kemauan. Sesuatu yang dimiliki (jika ia tahu dan bisa menggunakan dengan baik) pasti akan bisa mengatasi kesulitan hidupnya dan mencari jalan keluarnya. Sebaliknya kalau hatinya senantiasa ragu, bimbang, maka otaknya akan tertutup, geraknya tanpa kepastian. Langkahnya selalu maju-mundur, sehingga peluang yang ada kabur, dan ia hanya bisa menyesal.


2.    HAZAN (berduka, menyesali diri dan kecewa akan kegagalan masa lalu)

Kegagalan dalam hidup adalah biasa dan wajar. Namun kegagalan hendaknya tidak menjadikan hati kecut dan kecewa serta berputus asa, melainkan seharusnya menjadi cambuk untuk melecut semangat dalam berusaha dan merupakan pedoman untuk menghindari kegagalan dan meraih keberhasilan. Merintih, meratapi masa lalu dan berandai-andai adalah perbuatan yang sia-sia dan tidak disukai oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.


3.    ‘AJZI (pesimis, merasa tak berdaya)

Karena kurang percaya pada diri sendiri, maka ia akan senantiasa merasa dirinya lemah, tidak berguna. Bila diajak orang senantiasa menolak, karena merasa khawatir, selalu mencekam, takut salah. Pembicaraannya menggambarkan suatu yang suram, sedih, lemah, tidak punya inisiatif, dan tidak bergairah.


4.    KASL (malas)
Ada orang yang bila diajak untuk melakukan sesuatu ia selalu berusaha menghindar dengan berbagai alasan yang tak jelas, suka menunda pekerjaan, dan apabila diajak bermusyawarah tidak mau berpendapat dengan dalih hal tersebut tidak penting untuk dipikirkan. Orang seperti ini, kalau ia tidak mau bertindak, bukanlah karena fisiknya lemah atau sakit, tidak punya keterampilan atau otaknya buntu, melainkan semata karena malas. Padahal menunda pekerjaan berarti menambah beban, menghindari pekerjaan berarti membiarkan peluang berlalu. Padahal waktu itu ibarat mata pedang, bila tidak mampu menggunakan dengan baik dan benar, akan membunuh diri sendiri.

5.    JUBNI (penakut)

Penyakit ini membuat orang merasa takut tidak berani berjalan, berpikir, dan berbuat sendiri, ia tidak berani menyatakan sikapnya sendiri kepada orang lain, apalagi memperbaiki kesalahan diri atau orang lain walaupun ia mengetahui. Sesungguhnya tiap manusia punya rasa takut, dan ini bermanfaat agar orang waspada dan hati-hati dalam bertindak. Namun bila berlebihan, maka akan merugikan bagi diri maupun orang lain.


6.    BAKHIL (kikir)
Kikir tidak hanya terkait dengan harta, melainkan bisa pula kikir dalam ilmu dan budi. Orang kikir tidak mau memberikan miliknya kepada orang lain, kecuali sangat sedikit. Kalau ia punya harta, ia hitung-hitung terus hartanya dan disimpan di tempat seaman-amannya karena takut berkurang atau hilang. Kalau ia punya ilmu tak mau mengajarkannya kepada orang lain takut akan tertandingi dirinya. Bahkan orang kikir tidak mau memberikan senyum kepada orang lain. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah.” (HR Tirmidzi)

7.    HUTANG

Pada hakikatnya, hutang adalah mengurangi jatah rizqi hari esok. Lebih-lebih jika hutang itu untuk keperluan konsumtif, dan tanpa perhitungan. Resiko yang diderita orang berhutang adalah ketika ia tidak bisa melunasi pada waktunya : takut ketemu orang, mempersempit pergaulan, harga diri/martabat turun tanpa terasa, bahkan bisa menimbulkan pembunuhan.


8.    TERINTIMIDASI (diperbudak)

Sebenarnya secara fisik perbudakan sudah “tidak ada” di dunia modern seperti saat ini, namun kenyataannya banyak orang yang masih hidup seperti budak. Seperti halnya seorang karyawan atau pembantu yang dipekerjakan tanpa perikemanusiaan, diperas tenaga dan pikirannya dengan upah yang sangat kecil, bahkan tak diberi kesempatan istirahat, dan yang lebih parah tidak diperbolehkan menunaikan kewajiban kepada Rabb-Nya.

Tapi ada pula manusia yang bebas, namun ia diperbudak dirinya sendiri atau diperbudak oleh harta atau tahta (kekuasaan) dan wanita. Segala sesuatu berpotensi menimbulkan masalah, tapi bagi orang yang beriman, masalah bisa menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengasah keuletan, memperpanjang kesabaran.

Allah telah mengaruniakan kita akal untuk memilih, hati untuk memahami, akhlakul karimah untuk menyikapi. Begitulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita. Baik suka maupun duka, hendaknya menjadi sarana turunnya berkah bagi kita semua. Itulah petunjuk Rasulullah, dan do’a yang diajarkan Rasul kepada kita, demi mencapai kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar